Penelitian ini mengkaji secara mendalam implementasi nilai kerendahan hati Bunda Maria dalam kehidupan umat di stasi Santo Kornelius dengan merujuk pada inspirasi teologis perikop Injil Lukas 1: 26-45. Latar belakang kajian ini berangkat dari tantangan dan pengalaman kontemporer yang dihadapi Umat Katolik, terutama dalam mengaktualisasikan nilai-nilai kebajikan injili dalam realitas kehidupan. Nilai kerendahan hati yang diungkapkan secara nyata oleh Bunda Maria, khususnya saat ia menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel bertemu dengan Elisabet, merupakan teladan utama bagi komunitas iman yang berjuang menghidupi ajaran kristiani secara konsisten dan otentik dalam masyarakat modern yang cenderung menjunjung tinggi individualisme dan prestise duniawi.
Penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pembinaan iman berbasis biblis, liturgi yang kontekstual, pastoral, dan praksis sosial gereja dalam mendukung keharmonisan dalam menerapkan nilai-nilai kerendahan hati Bunda Maria di tengah umat. Rekomendasi utama yang disampaikan berupa tema integrasi kerendahan hati Maria ke dalam seluruh lini pelayanan gereja, seperti homili, katekese, pelatihan kader umat, dan pendampingan komunitas basis.
Penelitian ini, dilakukan dengan analisis hermeneutika biblis terhadap teks Lukas 1:26-45 guna menyingkapi makna naratif dan pesan spiritual terkait kerendahan hati Maria. Proses eksplorasi ini didukung dengan wawancara mendalam, refleksi, analisis dari magisterium gereja, serta interpretasi kontemporer mengenai relevansi nilai kerendahan hati di tengah dinamika perubahan sosial. Hasil analisis teologis terlihat bahwa sikap Maria yang rela menerima kehendak Allah, keberaniannya menanggalkan ambisi pribadi, dan keterbukaannya terhadap misteri ilahi menjadi landasan utama terbentuknya spiritualitas kerendahan hati yang dewasa dan transformatif.
Pendekatan kualitatif dipilih sebagai strategi utama penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dalam aktivitas pastoral, wawancara mendalam dari umat, serta dokumentasi kegiatan rohani di tengah komunitas.
Analisis data menunjukkan bahwa internalisasi nilai kerendahan hati Bunda Maria tidak terjadi secara instan melainkan melalui proses pelatihan rohani, pendampingan pastoral intensif, dan pengaruh keteladanan para pemimpin komunitas. Namun demikian, ditemukan pula sejumlah tantangan yang menghadang umat, seperti pengaruh budaya materialisme, egosentrisme, serta melemahnya tradisi devosi Maria akibat arus sekularisasi. Kondisi ini menjadi refleksi penting tentang kebutuhan pendalaman iman dan pemaknaan spiritualitas Katolik yang relevan dengan konteks zaman.
Novelti penelitian ini memiliki signifikansi ilmiah dan praktis memperdalam pemahaman tentang spiritualitas Maria dalam konteks Gereja Lokal yang pluralistik. Secara praktis, hasil penelitian memberikan kontribusi bagi para pemimpin gereja, guru agama/katekis, dan pelayan pastoral lainnya dalam mengembangkan strategi pembinaan....