Arsip Tugas Akhir

Repository publikasi ilmiah mahasiswa STK St. Yakobus Merauke

204
Karya Ilmiah
20
Kali Dilihat
8,059
Diunduh
Menampilkan 1–15 dari 204 karya ilmiah
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
Perkawinan Sedarah Suku Auyu Yaas Di Kabupaten Merauke Dalam Terang Kanon 1091 Kitab Hukum Kanonik 1983
Modesta Wihelmina Yaas (2202039)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK SEKOLAH TINGGI KATOLIK SANTO YAKOBUS MERAUKE 2026
Penelitian ini membahas praktik perkawinan sedarah pada masyarakat Suku Auyu Yaas di Kota Merauke dalam terang Kanon 1055 dan Kanon 1091 Kitab Hukum Kanonik 1983. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat, faktor penyebab, dampak, serta strategi pastoral dalam menangani praktik tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan 14 informan yang terdiri atas 12 pelaku perkawinan sedarah, 1 tokoh adat, dan 1 tokoh Gereja. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai perkawinan menurut adat dan ajaran Gereja masih rendah. Praktik perkawinan sedarah dipengaruhi oleh kuatnya sistem kekerabatan adat, keterbatasan pemahaman hukum Gereja, perubahan sosial, dan melemahnya kontrol sosial adat. Praktik tersebut berdampak pada aspek sosial, kultural, biologis, dan yuridis. Menurut Kanon 1091, perkawinan yang terkena halangan hubungan darah merupakan perkawinan yang tidak sah. Oleh karena itu, diperlukan strategi pastoral melalui katekese, pendampingan keluarga, persiapan perkawinan, serta kerja sama antara Gereja dan tokoh adat secara dialogis dan kontekstual.
Kata kunci: Perkawinan Sedarah, Suku Auyu Yaas, Kanon 1091, Hukum Kanonik, Pastoral.
PDF 2 14
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
Pemahaman Mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke Tentang Tata Gerak Dalam Liturgi Ekaristi Berdasarkan Konstitusi Liturgi Artikel 30
Melania Samderubun (2202036)
Kata Kunci: Pemahaman Mahasiswa Tata Gerak Liturgi Ekaristi
Nama: Melania Samderubun 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik (STK) Santo Yakobus Merauke tentang tata gerak liturgi dalam perayaan Ekaristi berdasarkan Konstitusi Liturgi (Sacrosanctum Concilium) artikel 30, mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendukung pemahaman tersebut, merumuskan upaya peningkatan pemahaman, serta mendeskripsikan implementasi pastoralnya dalam kehidupan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan studi dokumentasi terhadap 10 informan yang ditentukan secara purposive sampling, terdiri atas mahasiswa aktif semester II, IV, dan VI, serta satu orang dosen. Keabsahan data diuji melalui triangulasi teknik dan sumber, sedangkan analisis data dilakukan secara interaktif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pemahaman mahasiswa mengenai tata gerak liturgi berdiri, duduk, dan berlutut tergolong baik, di mana gerakan tersebut dipahami bukan sekadar tindakan fisik, melainkan ungkapan iman, penghormatan kepada Allah, serta bentuk partisipasi aktif dalam liturgi, meskipun sebagian mahasiswa masih memiliki pemahaman yang terbatas baik secara teoretis maupun praktis. Faktor penghambat pemahaman terdiri atas faktor internal, yaitu rendahnya literasi, motivasi, dan minat berlatih, serta kebiasaan refleksi yang belum terbentuk, dan faktor eksternal, yaitu perbedaan latar belakang budaya dan pengaruh teman sebaya. Lembaga telah melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan pemahaman tersebut, antara lain praktik langsung dalam perkuliahan, pelibatan mahasiswa dalam ibadah harian, dan pengintegrasian kegiatan rohani dengan mata kuliah. Implementasi pastoral tata gerak liturgi memerlukan pembinaan dan latihan yang berkesinambungan agar mahasiswa STK Santo Yakobus Merauke, sebagai calon guru agama Katolik dan katekis, mampu menghayati dan menerapkan tata gerak liturgi secara tepat sesuai dengan Konstitusi Liturgi artikel 30 dan Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) artikel 43, baik dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.
PDF 1 10
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
Peran Pendampingan Pastoral Kaum Muda Dalam Mengatasi Konsumtif Miras: Studi Fenomenologi Di Ampera 4 Kabupaten Merauke
Emeliana Tukan (2202009)
Pendampingan Pastoral Kaum Muda Perilaku Konsumtif Minuman Keras Fenomenologi
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena keterlepasan Orang Muda Katolik
(OMK) dari perayaan Ekaristi di wilayah Ampera 4, Kabupaten Merauke, sebuah
gejala yang dinilai memerlukan pemahaman mendalam melampaui asumsi
hilangnya iman semata. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman
fenomenologis OMK dalam memaknai keterlepasan tersebut serta menganalisis
faktor-faktor yang melatarbelakangi dan mempertahankan kondisi tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi,
dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi
partisipan, dan studi dokumentasi terhadap informan kunci yang terdiri atas OMK,
pengurus lingkungan, dan pastor paroki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
keharusan ekonomi merupakan penghalang struktural utama yang mendorong
keterlepasan OMK dari kehidupan menggereja, yang termanifestasi dalam tiga
bentuk utama: pertama, benturan jadwal kerja yang tidak menentu, khususnya bagi
OMK yang bekerja di sektor informal seperti buruh pelabuhan; kedua, kelelahan
fisik pascakerja yang membatasi ruang dan energi untuk berpartisipasi dalam
kegiatan liturgi; dan ketiga, prioritas rasional dalam memenuhi kebutuhan ekonomi
dasar yang pada akhirnya mengalahkan keterlibatan dalam kegiatan keagamaan.
Secara fenomenologis, penelitian ini menemukan bahwa keterlepasan dari Ekaristi
tidak dimaknai oleh OMK sebagai kehilangan iman. Sebaliknya, mereka
mengalami konflik batin antara keinginan untuk tetap terlibat secara liturgis dan
keterbatasan struktural yang dihadapi, sehingga secara sadar membangun bentuk
bentuk spiritualitas personal sebagai kompensasi, seperti berdoa secara mandiri dan
membaca Kitab Suci di rumah. Fenomena ini merefleksikan konsep believing
without belonging, yakni tetap mempertahankan iman meskipun tidak lagi aktif
secara kelembagaan dalam komunitas gerejawi. Selain faktor ekonomi, penelitian
ini juga mengidentifikasi konflik internal dalam diri OMK serta minimnya
pendampingan pastoral yang berkelanjutan sebagai faktor penghambat yang turut
memperparah kondisi keterlepasan tersebut. Di sisi lain, ditemukan pula faktor
pendukung yang masih menjaga keterikatan sebagian OMK dengan kehidupan
menggereja, yaitu kualitas liturgi yang hidup dan bermakna serta pelibatan aktif
OMK dalam berbagai tugas pelayanan gereja. Temuan ini menegaskan pentingnya
model pendampingan pastoral yang lebih adaptif terhadap realitas sosial-ekonomi
kaum muda, sebagaimana diusulkan melalui Model SAPA, guna menjembatani
kembali keterlibatan OMK dalam kehidupan liturgis dan komunitas gerejawi.
PDF 0 9
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
Peran Gereja sebagai agen pastoral Dalam Pendampingan Anak Asli Papua Yang Mengalami Putus Sekolah Di Lingkungan St. Paulus Paroki Bambu Pemali Keuskupan Agung Merauke
Yohana Mariana Mabur (2202056)
Anak putus sekolah di merauke
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran Gereja
sebagai agen pastoral dalam mendampingi anak asli Papua yang mengalami putus
sekolah di Lingkungan Santo Paulus, Paroki Bambu Pemali, Keuskupan Agung Merauke; mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan anak mengalami putus
sekolah; serta merumuskan strategi pastoral yang dapat dikembangkan Gereja untuk
mengurangi angka putus sekolah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretivis-konstruktivis dan strategi studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Informan dipilih secara purposif, yang
terdiri atas pastor atau tokoh pastoral, pengurus lingkungan, orang tua/wali, dan anak
yang mengalami putus sekolah. Data dianalisis secara deskriptif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan memperhatikan triangulasi sumber dan metode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gereja telah menjalankan peran pastoral
dalam mendampingi anak dan keluarga, tetapi pelaksanaannya belum seimbang pada
seluruh dimensi pastoral. Dimensi koinonia menjadi kekuatan utama melalui penerimaan dan keterlibatan keluarga dalam kehidupan komunitas, sedangkan diakonia
telah diwujudkan melalui bantuan konkret, tetapi masih bersifat karitatif dan jangka
pendek. Kerygma telah dilaksanakan melalui kunjungan pastoral dan pewartaan tentang pentingnya pendidikan, tetapi belum menjangkau seluruh keluarga sasaran
secara merata. Sementara itu, dimensi martyria, khususnya advokasi hak pendidikan
anak kepada sekolah, pemerintah, dan lembaga terkait, masih sangat terbatas. Faktor
penyebab putus sekolah bersifat multidimensional dan saling berkaitan, dengan faktor
ekonomi keluarga sebagai faktor yang paling dominan, disertai faktor budaya, sosiallingkungan, dan kondisi internal anak.
Temuan penting penelitian menunjukkan bahwa anak-anak masih memiliki
keinginan untuk kembali bersekolah apabila memperoleh dukungan yang memadai.
Oleh karena itu, strategi pastoral perlu dikembangkan secara terencana, terpadu,
partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan melalui penguatan keluarga, pelayanan
diakonia pendidikan, pastoral konseling, keterlibatan tokoh adat dan kearifan lokal,
serta advokasi hak pendidikan melalui kerja sama Gereja, keluarga, sekolah,
pemerintah, dan pihak terkait. Gereja diharapkan tidak hanya hadir sebagai komunitas
yang menerima dan membantu, tetapi berkembang sebagai agen pastoral yang
mampu memperjuangkan dan memulihkan hak pendidikan anak asli Papua.
Kata kunci: Gereja, agen pastoral, pendampingan pastoral, anak asli Papua, putus
sekolah, pendidikan, Lingkungan Santo Paulus
PDF 0 65
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER KRISTIANI MELALUI SISTEM ASRAMA KHAS SANTO YAKOBUS BAGI MAHASISWA SEKOLAH TINGGI KATOLIK SANTO YAKOBUS MERAUKE BERBASIS TEORI THOMAS LICKONA
Marta Yabon (2202035)
pendidikan karakter Kristiani; Sistem Asrama Khas Santo Yakobus; moral knowing; moral feeling; moral action.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter Kristiani melalui Sistem Asrama Khas Santo Yakobus bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta menganalisis dampaknya terhadap pembentukan karakter mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan data yang diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif sebagian, dan studi dokumentasi terhadap 22 informan, terdiri atas 20 mahasiswa dan 2 pembina asrama. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter Kristiani dilaksanakan melalui keteladanan, pembiasaan, pendampingan personal, penegakan aturan yang bermakna, serta refleksi dan evaluasi. Strategi tersebut mendukung perkembangan moral knowing, moral feeling, dan moral action. Faktor pendukung meliputi lingkungan asrama yang kondusif, keteladanan pembina, program dan regulasi, serta dukungan institusional. Faktor penghambat meliputi penggunaan gawai dan media sosial yang kurang terkendali, perbedaan latar belakang mahasiswa, serta motivasi eksternal pada sebagian mahasiswa. Kehidupan berasrama menunjukkan pola perkembangan karakter yang bertahap; mahasiswa dengan masa tinggal lebih lama cenderung menunjukkan pemahaman nilai yang lebih reflektif, motivasi yang lebih internal, dan tindakan moral yang lebih konsisten. Penelitian menyimpulkan bahwa Sistem Asrama Khas Santo Yakobus menjadi lingkungan pembinaan karakter Kristiani yang terintegrasi melalui pengalaman hidup mandiri, kegiatan rohani, tanggung jawab komunitas, dan pendampingan pembina.
PDF 0 25
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
PENDAMPINGAN PASTORAL TERHADAP UMAT ALLAH YANG MENGALAMI PERMASALAHAN SEKSUAL DI PAROKI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS KATEDRAL MERAUKE
Marianus Heatubun (2202033)
Pendampingan Pastoral Permasalahan Seksual Gereja Katolik Umat Allah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pendampingan pastoral yang diberikan Gereja terhadap umat Allah yang mengalami permasalahan-permasalahan seksual di Paroki Katedral Santo Fransiskus Xaverius Merauke. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Informan penelitian terdiri atas pastor paroki, petugas pastoral, dan umat yang memiliki pengalaman atau pengetahuan mengenai pendampingan pastoral di paroki tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan pastoral yang diberikan masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari segi pemahaman umat maupun pendekatan pastoral yang digunakan. Namun demikian, Gereja terus berupaya menghadirkan pelayanan yang mengedepankan kasih, penerimaan, dan pembinaan iman bagi setiap umat tanpa diskriminasi. Pendampingan pastoral yang tepat dapat membantu umat mengalami kasih Allah serta menumbuhkan kehidupan iman yang lebih dewasa.
PDF Drive 1 26
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
Kearifan Lokal Dalam Ekologi Global: Sebuah Telaah Etika Mertamu Masyarakat Malind Anim Dalam Perspektif Laudato Si
Rikardus Gowo (2102025)
Kata kunci: kearifan lokal praktik meramu Malind-Anim etika ekologi
ABSTRAK

Kearifan Lokal dalam Ekologi Global: Sebuah Telaah Etika Meramu Masyarakat Malind Anim dalam Perspektif Laudato Si’. Skripsi. Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan antara krisis ekologi global yang terus memburuk dan keberadaan kearifan lokal masyarakat adat yang selama berabad-abad terbukti menjaga keseimbangan alam, tetapi belum terdokumentasi secara sistematis dan belum pernah dikaji dalam dialog dengan ajaran ekologi integral Gereja Katolik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik meramu masyarakat Malind-Anim sebagai cerminan kearifan lokal, mengidentifikasi nilai ekologi dan etika yang terkandung di dalamnya, serta menjelaskan relevansinya dengan ekologi integral Ensiklik Laudato Si’. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan hermeneutik teologis. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan empat informan di Kampung Wasur, yaitu ketua adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, dan seorang imam Katolik, serta studi dokumentasi. Keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber, metode, dan waktu, sedangkan analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan tiga hal. Pertama, praktik meramu diatur oleh tiga mekanisme yang saling menopang, yaitu pembatasan jumlah pengambilan, kewajiban pemulihan, dan pembatasan ruang melalui pengakuan atas tempat keramat. Kedua, praktik tersebut mengandung empat nilai yang membentuk satu sistem etika ekosentris, yakni wasui, imo-wasur, samb-anim, dan tanggung jawab antargenerasi. Ketiga, nilai-nilai tersebut bersesuaian dengan gagasan rumah bersama, penolakan terhadap antroposentrisme, solidaritas ekologis, dan dimensi spiritual perawatan ciptaan dalam Laudato Si’. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan kearifan lokal tersebut sebagai bahan katekese ekologis dan sebagai dasar pendampingan pastoral yang kontekstual di wilayah Papua Selatan.
PDF 0 11
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF BERMUATAN PENDIDIKAN KARAKTER KRISTIANI PADA PROGRAM BEVAK PINTAR (Studi Kasus Kelompok Belajar Santa Elisabeth, Merauke)
Veronika Waleng Tenawahang (2202054)
pendidikan inklusif pendidikan karakter Kristiani Bevak Pintar pendidikan nonformal
Veronika Waleng Tenawahang (2026). Implementasi Pendidikan Inklusif
Bermuatan Pendidikan Karakter Kristiani pada Program Bevak Pintar: Studi Kasus
Kelompok Belajar Santa Elisabeth, Merauke. Skripsi. Program Studi Pendidikan
Keagamaan Katolik, Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke.
Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi pendidikan inklusif,
mendeskripsikan integrasi Nilai-nilai karakter Kristiani, serta mengidentifikasi
faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan Program Bevak Pintar Santa
Elisabeth, Merauke. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain
studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 10 informan
(pendiri, tiga pembina, tiga orang tua, dan tiga peserta didik), observasi partisipatif
sebanyak tiga kali, serta studi dokumentasi. Analisis data mengacu pada model
interaktif Miles dan Huberman (1992) dan kerangka evaluasi CIPP (Stufflebeam,
2014).
Hasil penelitian menunjukkan: (1) Program Bevak Pintar mengimplementasikan
pendidikan inklusif melalui tiga praktik inti, yaitu prinsip non-diskriminasi yang
terbuka bagi semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus, pengelompokan
berdasarkan kemampuan sebagai bentuk differentiated instruction, dan metode
student-centered yang mengutamakan pendampingan individual; (2) Nilai-nilai
karakter Kristiani diintegrasikan melalui habitus berupa pembiasaan doa bersama,
nyanyian rohani, cerita Kitab Suci, dan keteladanan kasih (Caritas) para pembina,
dengan konsep Imago Dei sebagai landasan filosofis inklusivitas; (3) faktor
pendukung utama adalah dukungan komunitas paroki, dedikasi relawan, dan
keterlibatan orang tua yang membentuk modal sosial yang kuat. Faktor penghambat
meliputi keterbatasan sarana prasarana, rasio pembina yang belum memadai, serta
ketiadaan panduan pembelajaran terstruktur.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa kekuatan modal sosial dan spiritual
komunitas mampu mengompensasi keterbatasan material, namun keberlanjutan
program jangka panjang memerlukan penguatan sistematis pada komponen Input.
PDF 0 10
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
PERAN TEMAN SEBAYA DALAM MEMBENTUK PERILAKU KONSUMSI MINUMAN BERALKOHOL PADA REMAJA DI PAROKI SANTA THERESIA BUTI
Blasius Moa Dedilado (2202007)
peran teman sebaya perilaku remaja konsumsi minuman beralkohol tekanan kelompok (peer pressure)
Masa remaja merupakan fase krusial pencarian identitas diri yang ditandai
tingginya intensitas interaksi dengan kelompok teman sebaya, sehingga pengaruh
lingkungan pergaulan sering kali lebih dominan daripada keluarga. Di wilayah
pesisir Paroki Santa Theresia Buti, Keuskupan Agung Merauke, fenomena
konsumsi minuman beralkohol yang mulanya menjadi bagian dari tradisi
kebersamaan atau pelarian stres pada orang dewasa kini telah bergeser dan marak
terjadi di kalangan remaja dengan tingkat keterlibatan mencapai. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran dan dinamika
relasi teman sebaya dalam membentuk perilaku konsumsi minuman beralkohol
pada remaja di lingkungan paroki tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data
primer diperoleh melalui observasi langsung di Lingkungan St. Antonius dan Sta.
Sisilia serta wawancara mendalam terhadap 33 informan kunci (Pastor Paroki, 2
Ketua Lingkungan, 10 Orang Tua, dan 20 Remaja). Data sekunder bersumber dari
dokumen resmi paroki serta laporan ilmiah terkait. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kelompok teman sebaya bertindak sebagai agen sosialisasi sekunder paling
dominan yang membentuk norma dan kebiasaan berkumpul remaja. Konsumsi
minuman beralkohol telah mengalami normalisasi sosial dalam interaksi
kelompok sebagai sarana kebersamaan, selebrasi, maupun pelarian dari masalah
pribadi. Keterlibatan remaja dipicu kuat oleh mekanisme tekanan kelompok (peer x
pressure) melalui rasa sungkan, ketakutan dikucilkan atau dianggap tidak "keren",
serta kebutuhan akan pengakuan sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa
lemahnya pengawasan orang tua dan belum optimalnya jangkauan program
pembinaan Orang Muda Katolik (OMK) Gereja memperbesar peluang remaja
terjerumus dalam perilaku berisiko tersebut. Sebaliknya, remaja yang aktif dalam
kegiatan keagamaan memiliki kontrol diri yang lebih kuat. Kesimpulannya,
kualitas relasi kelompok sebaya menjadi penentu utama perilaku remaja, sehingga
dibutuhkan kolaborasi nyata antara keluarga, Gereja (Pastor dan Katekis), serta
masyarakat paroki dalam menyediakan sarana pembinaan moral dan kegiatan
positif yang berkelanjutan.
PDF 1 9
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
KEPEMIMPINAN MUSA DALAM KITAB KELUARAN 3:1-22 SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN DEWAN STASI SANTO AGUSTINUS SP 6 PAROKI BUNDA HATI KUDUS KUPER
Hironimus Ero (2202021)
Kepemimpinan Musa Servant Leadership Dewan Stasi.
Abstrak
Kepemimpinan dewan stasi Santo Agustinus SP 6, Paroki Bunda Hati Kudus Kuper, hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan dalam praktik pelayanan pastoral sehingga nilai-nilai kepemimpinan Kristiani belum sepenuhnya terwujud secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik kepemimpinan dewan stasi Santo Agustinus SP 6 selama ini, menganalisis model kepemimpinan Musa dalam Kitab Keluaran 3:1-22, serta menganalisis apakah praktik kepemimpinan dewan stasi Santo Agustinus SP 6 sesuai dengan model kepemimpinan Musa atau terdapat kesenjangan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Informan penelitian berjumlah 10 (sepuluh) orang, terdiri atas tiga informan kunci, yaitu ketua, sekretaris, dan bendahara dewan stasi Santo Agustinus SP 6, serta tujuh informan tambahan dari kalangan umat yang terlibat aktif dalam kegiatan gereja. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kepemimpinan dewan stasi Santo Agustinus SP 6 telah menunjukkan semangat melayani umat, namun pelaksanaannya kurang berjalan secara optimal. Hal tersebut tampak dari masih kurangnya komitmen, integritas, kerja sama tim, kepekaan terhadap kebutuhan umat, serta pelibatan umat dalam pelayanan, di samping keterbatasan dana dan fasilitas pendukung pelayanan. Sementara itu, model kepemimpinan Musa dalam Kitab Keluaran 3:1-22 menunjukkan kepemimpinan yang berakar pada panggilan Allah dan berorientasi pada pelayanan, yang diwujudkan melalui lima nilai utama, yaitu panggilan ilahi, kerendahan hati, kepekaan dan empati, keberanian dan ketegasan, serta kolaborasi dan partisipasi. Berdasarkan perbandingan antara praktik kepemimpinan dewan stasi Santo Agustinus SP 6 dengan model kepemimpinan Musa, ditemukan adanya kesenjangan terutama pada aspek integritas, kedisiplinan pelayanan, sinergi antar pengurus, dan partisipasi umat.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan model kepemimpinan pastoral kontekstual berbasis nilai-nilai kepemimpinan Musa yang mencakup lima dimensi, yaitu integritas dan keteladanan, kedisiplinan pelayanan, sinergi antar pengurus, pengorbanan dan kesabaran pastoral, serta partisipasi umat yang kontekstual. Disarankan agar pastor paroki memberikan pembinaan dan pendampingan yang lebih intensif kepada pengurus dewan stasi, serta agar pengurus bersama umat membangun kepemimpinan pastoral yang semakin melayani, partisipatif, dan berakar pada spiritualitas Kristiani.
PDF 0 13
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
Peran Peer Group Dalam Retensi Dan Atrisi Anggota Misdinar Di Stasi Santo Yakobus Sp7 Paroki Bunda Hati Kudus Kuper
Germana Tiung (2202018)
Kata kunci: peer group retensi atrisi Misdinar
Germana Tiung (2026). Peran Peer Group dalam Retensi dan Atrisi Anggota Misdinar Di Stasi Santo Yakobus SP7 Paroki Bunda Hati Kudus Kuper. Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman retensi dan atrisi anggota Misdinar dalam kaitannya dengan peran peer group, serta mengidentifikasi faktor-faktor dalam dinamika peer group yang memengaruhi keduanya, dengan lokasi penelitian di Stasi Santo Yakobus SP7, Paroki Bunda Hati Kudus Kuper. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh informan yang terdiri atas anggota Misdinar kategori retensi dan atrisi, pembina, dewan stasi, orang tua, dan ketua lingkungan, serta melalui observasi partisipatif dan studi dokumentasi. Data dianalisis secara tematik dan diperiksa keabsahannya melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retensi anggota Misdinar ditopang oleh sinergi tiga lapis dukungan, yaitu kehangatan relasi peer group, dukungan aktif orang tua, dan keteladanan pembina maupun anggota senior. Sebaliknya, atrisi anggota bersifat multifaktorial, mencakup faktor struktural yang netral, seperti kepindahan sekolah, serta faktor relasional-psikologis yang lebih dominan, yaitu rasa dikucilkan akibat terbentuknya kelompok kecil (klik) yang eksklusif, larangan orang tua, dan pengaruh pergaulan di luar lingkungan gereja. Dinamika peer group ditemukan bekerja secara dua arah, yaitu menjadi kekuatan pendorong retensi ketika bersifat inklusif dan suportif, namun menjadi pemicu atrisi ketika bersifat eksklusif. Sifat dua arah ini turut tergambar dalam hasil observasi peneliti, yang mencatat tekanan kelompok (peer pressure) berlangsung relatif seimbang antara kecenderungan yang bersifat positif dan negatif. Penelitian ini merekomendasikan penguatan iklim kelompok yang inklusif, peningkatan komunikasi antara pembina, orang tua, dan anggota, serta pengelolaan peer group secara pastoral sebagai sarana katekese dan penguatan spiritualitas remaja dalam pelayanan liturgi Gereja Katolik.
PDF 1 12
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
PENGARUH PERSEPSI MENGENAI PROGRAM BEASISWA KIP-KULIAH TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK SEKOLAH TINGGI KATOLIK SANTO YAKOBUS MERAUKE
Yosefa Sabina Witi (2202057)
persepsi beasiswa KIP-Kuliah motivasi berprestasi regresi linear sederhana
Yosefa Sabina Witi (2026). Pengaruh Persepsi Mengenai Program Beasiswa KipKuliah Terhadap Motivasi Berprestasi Mahasiswa Program Studi Pendidikan
Keagamaan Katolik Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke. Skripsi.
Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, Sekolah Tinggi Katolik Santo
Yakobus Merauke.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat persepsi dan motivasi
berprestasi mahasiswa penerima beasiswa KIP-Kuliah pada Program Studi
Pendidikan Keagamaan Katolik (S1) Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus
Merauke; (2) pengaruh persepsi mengenai program beasiswa KIP-Kuliah terhadap
motivasi berprestasi mahasiswa; dan (3) besarnya sumbangan efektif variabel
persepsi program beasiswa terhadap motivasi berprestasi. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif kausal dengan pendekatan crosssectional. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa penerima KIP-Kuliah di
STK Santo Yakobus Merauke yang berjumlah 150 orang, dengan teknik sensus
terhadap seluruh populasi, menghasilkan 90 responden aktif dari 150 mahasiswa
penerima KIP-Kuliah. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner dengan
skala Likert 1–4 dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Untuk
memperdalam temuan kuantitatif, penelitian ini juga menggunakan wawancara
semi-terstruktur terhadap 8 informan yang dipilih secara purposif dari empat tingkat
semester sebagai data pendukung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat persepsi mahasiswa terhadap
program beasiswa KIP-Kuliah berada pada kategori tinggi (Mean = 70,90; SD =
5,119), dengan 55,6% responden berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi,
sementara tingkat motivasi berprestasi berada pada kategori rendah (Mean = 71,20;
SD = 5,165), dengan 51,1% responden berada pada kategori rendah dan sangat
rendah; (2) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari persepsi program
beasiswa KIP-Kuliah terhadap motivasi berprestasi mahasiswa, dibuktikan oleh
persamaan regresi Y = 50,624 + 0,290X dengan nilai t hitung = 2,817 > t tabel =
1,987 dan nilai signifikansi 0,006 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima; dan
(3) koefisien determinasi (R²) sebesar 0,083, yang berarti sumbangan efektif
variabel persepsi program beasiswa dalam menjelaskan variansi motivasi
berprestasi sebesar 8,3%, sedangkan sisanya 91,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain yang tidak diteliti.
PDF 1 25
Pendidikan Keagamaan Katolik 2026
Pengaruh Intensitas Penggunaan Telepon Genggam Terhadap Minat Membaca Kitab Suci Di Kalangan Orang Muda Katolik Paroki Santo Fransiskus Xaverius Katedral Merauke
Flesia Salay (2202012)
Kata Kunci: Intensitas Penggunaan Smartphone Minat Membaca Kitab Suci Orang Muda Katolik.
ABSTRAK

Skripsi ini berjudul Pengaruh Intensitas Penggunaan Smartphone terhadap Minat Membaca Kitab Suci di Kalangan Orang Muda Katolik paroki St. Fransiskus Xaverius Katedral Merauke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas penggunaan smartphone, mengetahui minat membaca Kitab Suci, serta menganalisis pengaruh intensitas penggunaan smartphone terhadap minat membaca Kitab Suci di kalangan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Fransiskus Xaverius Katedral Merauke. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi linier sederhana. Populasi penelitian berjumlah 40 orang OMK dan seluruhnya dijadikan sampel melalui teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert empat poin dan diolah dengan bantuan program IBM SPSS Statistics 26 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden (100%) berada pada kategori intensitas penggunaan smartphone yang sangat tinggi, dengan rata-rata durasi pemakaian 5 sampai 8 jam per hari, terutama untuk mengakses media sosial dan konten hiburan digital. Di sisi lain, minat membaca Kitab Suci di kalangan OMK tergolong tinggi, dengan 52,5% responden berada pada kategori sangat tinggi dan 47,5% pada kategori tinggi. Hasil uji regresi linier sederhana memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,199 (lebih besar dari 0,05), yang menunjukkan bahwa intensitas penggunaan smartphone tidak berpengaruh signifikan terhadap minat membaca Kitab Suci. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,208 menunjukkan hubungan positif yang sangat lemah antara kedua variabel, sedangkan nilai R Square sebesar 0,043 menunjukkan bahwa intensitas penggunaan smartphone hanya menyumbang 4,3% terhadap variasi minat membaca Kitab Suci, sementara 95,7% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian, seperti motivasi spiritual, dukungan komunitas iman, dan pembinaan rohani. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh signifikan antara intensitas penggunaan smartphone dan minat membaca Kitab Suci tidak terbukti secara empiris, sehingga minat membaca Kitab Suci pada OMK lebih banyak ditentukan oleh faktor spiritual dan komunitas iman dibandingkan oleh intensitas penggunaan smartphone.
PDF 1 12
Pendidikan Keagamaan Katolik (S1) 2026
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK PADA MATERI TERLIBAT DALAM HIDUP MENGGEREJA DENGAN METODE PEMBELAJARAN SIMULASI PADA SISWA KELAS IV SD YPPK ST MIKAEL KWEEL DISTRIK ELIGOBEL KABUPATEN MERAUKE
HERLINA BEATRIX KATKIRIK (1403017)
metode simulasi hasil belajar Pendidikan Agama Katolik
Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya siswa. Pendidikan Agama Katolik sebagai bagian dari kurikulum pendidikan memiliki fungsi untuk meningkatkan kualitas iman, moral dan ketakwaan peserta didik. Untuk itu hasil belajarnya pun harus ditingkatkan salah satunya dengan perbaikan metode pembelajaran yang inovatif.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan desain mengadopsi dari Stephen Kemmis dan MC Tanggart. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD YPPK St. Mikael Kweel Distrik Eligobel Kabupaten Merauke berjumlah 30 siswa. Penelitian dilakukan selama kurang lebih 2 bulan dalam 2 siklus terdiri dari perencanaan, observasi, tes dan dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif sebagai ukuran keberhasilan proses perbaikan pembelajaran. Penerapan metode simulasi melalui 3 tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksaan pelaksanaan tindakan simulasi, dan tahap penutup/evaluasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan metode simulasi siswa yang berpartisipasi aktif maupun siswa sebagai pengamat aktif mampu mengembangkan imajinasi, membentuk kekompakan kelompok, siswa tidak malu dan ragu untuk mengembangkan potensi. Hal tersebut secara efektif dapat m meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan kualitas pada ranah kognitif dari skor tes sebelum tindakan (pre tes) sebesar 65,68 meningkat menjadi 70,13 pada siklus I. Kemudian pada siklus II skor hasil belajar kognitif tersebut meningkat lagi menjadi 70,46. Sedangkan skor pada ranah afektif dari siklus I 67 meningkat menjadi 77 pada siklus II.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan agar guru selalu mengevaluasi metode pembelajaran yang digunakan dan menerapkan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satunya adalah dengan metode pembelajaran simulasi yang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara efektif.
PDF 0 75
Pendidikan Keagamaan Katolik (S1) 2026
PENGARUH MINAT BACA TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA-SISWI KELAS IV DAN V DI SEKOLAH DASAR YPPK HATI KUDUS KELAPA LIMA MERAUKE
DEPOSINA DJONLER (2002006 )
Minat Baca Hasil Belajar Kognitif
Skripsi ini berjudul PENGARUH MINAT BACA TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA SISWI SD YPPK HATI KUDUS KELAPA LIMA
MERAUKE. Skripsi ini diinspirasikan oleh situasi dan kondisi yang terjadi di SD YPPK Hati Kudus Kelapa Lima Merauke bahwa cukup banyak siswa memiliki minat baca yang sangat rendah sehingga berpengaruh pada hasil belajar siswa tersebut sehingga skripsi ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh minat baca terhadap hasil belajar kognitif siswa siswi kelas IV dan V SD YPPK Hati Kudus Kelapa Lima Merauke.
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan model analisis regresi. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa siswi kelas IV dan V SD YPPK Hati Kudus Kelapa Lima Merauke sebanyak 36 orang. Instrumen yang di gunakan adalah berupa angket dengan model skala Likert dengan jumlah butir instrumen penelitian variabel minat baca sebanyak 30 soal sementara variabel hasil belajar di lihat dari nilai rapor dan tidak di teliti karena sudah melewati validitas. Dari hasil uji validitas pada taraf signifikan 5 %, N=36 dengan nilai kritis 0,1 dan hasil uji reliabilitas minat baca diperoleh koefisien alpha sebesar 0,888 diperoleh koefisien alpha sebesar. Dari hasil uji regresi linier sederhana dengan taraf signifikan 5%, diperoleh nilai r² sebesar 0, 313 (31,3%) yang berarti terdapat pengaruh meskipun pengaruhnya lemah, artinya pengaruh minat baca tidak terlalu berdampak secara signifikan terhadap hasil belajar kognitif. Variabel lain yang berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa siswi sebesar 68,7%, yang menunjukkan bahwa Ha di terima dan Ho ditolak. Hal ini berarti minat baca berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa siswi.
Berdasarkan hasil penelitian ini di sarankan agar siswa siswi meningkatkan minat baca dan mengatur waktu mereka dengan baik untuk membaca, baik di sekolah, rumah maupun di mana saja serta di harapkan agar ada dukungan dari guru dan orang tua. Dalam upaya meningkatkan minat baca dalam dunia pendidikan yakni menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan, ruang baca yang nyaman, kegiatan membaca bersama, kompetensi dan penghargaan, keterlibatan keluarga.
PDF 1 79